Seikat demi seikat,
Rindu yang menyelimuti kembali datang.
Bersama gersangnya air mata.
Berharap kisah ini akan berlanjut.

Seuntai demi seuntai,
Rambut hitam mulai berjatuhan.
Dan hanya meninggalkan putih di kepala.
Tanda kisah telah usai.
Berharap masa lalu akan kembali didepan.
Seperti gajah terbang ke angkasa.

Hanya tersisa prasasti suci.
Yang sekian lama terlukis dihati.
Lalu hilang tiba-tiba entah dimana.
Mungkin tertelan oleh mentari pagi.
Atau hujan lebat kemarin malam.

Ku masuki istana tanpa izin.
Dan berkeliaran seperti tak dianggap.
Lelah ku tutupi darah dengan emas, yang kudapatkan dari pulau bermuda.
Hingga kau terhipnotis bayanganku.
Dan tertipu oleh sulapku.

Tak ada orang yang ingin dipaksa cintanya.
Tak pula bayi ingin bekerja.
Beginilah adanya.
Walaupun tak sesuai harapan.
Kan ku ikhlaskan dan tetap sabar.
Karena pria sejati tau, siapa yang pantas untuk dirinya.

“Maafkan aku yang telah mengukir abu di kehidupanmu”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *